Kamis, 11 September 2008






Puzzle

inisiatif komunitas kreatif

Sesuatu yang menarik bagi saya bergabung dengan Komunitas Kreatif, cerita-cerita lapangan seperti pecahan-pecahan puzzle yang berserakan, puzzle-puzzle ini saya temukan di setiap kali saya berkunjung dan mendengarkan cerita-cerita yang menbanggakan dari mereka para pelaku Inisiatif Komunitas Kreatif di desa-desa yang saya kunjungi.

Puzzle 1

Beberapa hari lalu saya menemani teman dari Bank Dunia mengunjungi kecamatan Mojogedang yang punya mimpi dengan pertanian organiknya, hal menarik yang saya dapatkan di sana adalah bagaimana semangat sekelompok petani untuk mengembalikan kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk dan insektisida sintesis, proses recovery nya membutuhkan waktu minimal 5 tahun. Belum terlambat menurut saya untuk memulai. Waktu itu saya mendapat penjelasan bagaimana membuat pupuk alami, membuat obat untuk tanaman yang alami, pengendali hama yang alami dan serba alami, lalu saya mulai membayangkan sawah yang hijau petani yang sedang membajak, anak-anak bermain di sungai dengan kerbau, musik dari suling bambu, seperti pada cerita-cerita yang saya dapatkan pada waktu kecil, begitu indahnya!

Puzzle 2

Malam Purnama seperti kebanyakan malam purnama yang sudah 3 tahun saya lewati dengan berbagai pertunjukan kesenian di tempat saya tinggal, Padepokan Gedhong Putih. Malam purnama ini lagi-lagi di bulan puasa, sudah kedua kalinya di bulan puasa menggelar ruwatan dengan dalang Edi Sulistiyono dari ASGA Mangkunegaran, tapi malam ini dan pertunjukan wayang hambarangnya membuat saya berpikir tentang industri wayang yang di desa-desa yang saya dengar dari para pengusungnya (para dalang desa yang juga sekaligus pembuat wayang), industri wayang saat ini sudah tidak lagi menjanjikan, tanggapan wayang hampir tidak pernah lagi ada, pembuatan wayang juga lesu karena susahnya mencari dan mahalnya bahan baku. Wayang hambarang yang digagas oleh Pak Seno selaku pemilik Padepokan Gedhong Putih dan dalang Edi ini berupaya mengusahakan wayang murah meriah yang bisa ditanggap orang-orang sekarang yang hanya memiliki uang sedikit dan tempat yang kecil, sebuah usaha kreatif dalam melanjutkan keberadaaan wayang di masyarakat kecil.

Saya coba memahami fenomena ini, saya tidak akan masuk pada apa yang didebatkan masalah pakem dan adiluhung, bullshit ! kalau dengan alasan pakem dan adiluhung tapi hanya masyarakat kelas tertentu saja yang dapat menanggap, hal itu sama saja dengan lebih baik mengkarungkan wayang dalam musium-musium biar jadi barang yang lama-lama busuk dimakan tothor.

Saya membayangkan hidupnya sebuah kesenian karena adanya lingkungan sosial masyarakat pendukungnya, adanya band Niji, Letto, Kangen Band juga karena sosial masyarakatnyanya yang mendukung, seperti juga halnya maraknya kesenian campursari dan dangdut yang kini sedang didukung oleh sosial masyarakat di desa-desa.
Jika wayang desa “A” juga ingin hidup, yah sudah tentu harus di dukung oleh minimal sosial masyarakat di desa “A”. Gambaran Wayang Hambarang dengan niatnya menyeruak dari hegemoni wayang mahal yang diusung dalang-dalang beken karena kekuasaan pada orde baru, maupun media TV, merupakan fenomena yang perlu dilihat. Sekarang berapa banyak orang yang mampu menanggap wayang? Berapa banyak dalang-dalang yang menetapkan tarif mengikuti tarif dalang-dalang beken itu karena ingin meningkatkan “penghasilannya?” dan berapa banyak masyarakat yang mengurungkan niatnya menanggap wayang karena mahalnya biayanya? Setidaknya dalam beberapa kali kunjungan saya ke desa-desa, saya mendengar keluh-kesah tentang wayang ini.

Puzzle 3

Malam itu Pak Purwoko dan Pak Sigid mengajak Pak Paito kerumah saya untuk mendiskusikan cerita videoklip campur sari yang sedang mereka kerjakan (sepertinya PNPM kena efek IKK juga, sosialisasi PNPM dengan menelurkan album campursari, cool…). Hampir tengah malam kami kedatangan tamu seorang Tim Kreatif IKK Gondangrejo, Pak Warno yang mengabarkan sedang ada proses pengambilan gambar di rumahnya oleh salah satu stasiun TV Swasta Nasional, mereka mendokumentasikan proses pembuatan wayang dari bahan mentah hingga jadi, Pak Warno menceritakan betapa susahnya sekarang mencari bahan mentah untuk membuat wayang kulit kalau adapun mahal sekali, saya lantas terpikir bagaimana para pengrajin wayang di Jawa Tengah juga kesulitan mencari kulit sebagai bahan wayang, Kulit yang digunakan untuk wayang memang yang terbaik adalah kulit kerbau, sedangkan di Jawa hampir kita tidak pernah menjumpai kerbau lagi.

Puzzle 1, 2,3

Saya mencoba menghubung-hubungkan puzzle satu demi satu, ada sebuah gambaran menarik hubungannya Inisiatif Komunitas Kreatif dengan PertanianOrganik, dan Wayang Kulit.
Bayangkan (sambil mendengarkan musik Imaginenya John Lenon dan nonton BARAKA) Di satu desa masyarakatnya bertani, mengolah lahan persawahan, sebelum melakukan proses tanam, ada upacara sedekah bumi yang digelar, masyarakat berkumpul dalam upacara itu bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi, sibuk mempersiapkan acara tersebut, gotong royong, bantu membantu demi terselenggaranya acara sedekah bumi yang pada intinya adalah menghargai tanah, tanaman, waktu dengan cara pengolahan yang baik.

Pada saat pengolahan karena ada kesadaran tanah sebagai sumber penghidupannya, para petani menggarap tanah, membajak tanahnya dengan menggunakan kerbau bukan dengan traktor seperti yang sering kita dapati sekarang. Kaki kerbau yang menghujam kuat kedalam tanah, kotoran yang dikeluarkan saat membajak menambah tanah menjadi subur, di tambah penggunaan pupuk alami dan obat-obatan tanaman non toxic karena diolah dari bahan-bahan yang alami, menjadikan tanah tidak rusak seperti sekarang ini. Di saat panen (yang terjadi mungkin hanya 2 kali dalam 1 tahun) memberikan kesempatan tanah beristirahat untuk memperbaiki diri secara alami. Pada waktu panen diadakan upacara sedekah bumi dan menanggap wayangan sebagai wujud penghargaan kepada tanah telah menghasilkan padi yang baik bebas dari kimia sintesis, sehingga sehat bagi masyarakat yang mengkonsumsinya.

Dari ilustrasi di atas bisa kita renungkan bagaimana kehidupan di desa roda perekonomian dapat tumbuh dan kesenian tetap hidup, karena ada mekanisme sosial yang saling dukung-mendukung. Para pengrajin wayang dapat memperoleh bahan baku dengan mudah, kesenian wayang masih bisa hidup, budaya masyarakat masih dapat lestari, nilai hasil pertanian tinggi.

Mungkinkah kini kita coba untuk Mengolah desa dengan kearifan lokal kita yang

sudah mulai kita lupakan?

Mari kita membeli kerbau, bertani organik, dan nanggap wayang!

Masih banyak lagi puzzle yang berserakan di luar!


Tidak ada komentar: