Selasa, 25 November 2008

Plupuh yang batik abizzzz

Selasa, 18 november 2008

Pagi ini jam 10 saya berkunjung mendadak ke Plupuh untuk urusan yang sama dalam minggu-minggu ini pendalaman proposal komponen 1 dan 2, saya mencoba menanyakan ini lebih jauh kepada Pak Sunardi selaku Penlok mengenai impian desa. Analisa saya ada yang terlewatkan dalam proses sosialisasi, yaitu proses bermimpi. Mungkin mimpi/impian tanpa disadari menjadi suatu hal yang tidak penting pada tahapan ini, atau mungkin juga proses bermimpi ini tidak tersosialisasikan dengan baik. Pada pertemuan ini saya mencoba mengingatkan kembali proses bermimpi merupakan proses lanjutan dari indentifikasi budaya yang telah dilakukan, mimpi pastinya berakar dari itu. ”To The Point saja mas Tommy!” kata Pak Sunardi (beliau ada jadwal lainnya harus memimpin rapat koperasi, saya maklum seperti halnya program ini juga sebagai pengisi di waktu luang pelaksanaan tugas PNPM J). Saya bertanya, ”dulu sewaktu pelatihan mimpi Kecamatan Plupuh apa ya?” pak Sunardi mencoba mengingat-ingat, dan dia lalu mengatakan Plupuh Kota Batik. Saya mencoba menanyakan lebih jauh bagaimana itu terjadi? Pak sunardi menerangkan dengan antusias di Plupuh banyak terdapat pengusaha dan buruh batik, bahkan 1 perusahaan batik di Plupuh dapat memperkerjakan sekitar 1000 buruh batik, dan semua desa punya potensi batik ini dan tidak hanya motif yang sudah ada akan tetapi juga penciptaan motif-motif baru, hal yang sebenarnya menarik menurut saya dilihat dari kemampuan masyarakat di Plupuh dalam memproduksi Batik ini sampai penciptaan ”motif baru”. Lalu Pak Sunardi memutuskan untuk mencoba mensosialisasikan mimpi yang dulu dicetuskan dalam pelatihan ke desa-desa, dengan pendekatan membuat Event Festival Batik di tingkat Kecamatan sebagai sebuah solusi saat itu untuk tetap mengakomodir proposal kegiatan yang diusulkan desa-desa (kesenian / pertunjukan). Sebagai sebuah konsekuensi logis yang terjadi, maka jumlah dana ke desa akan menjadi berkurang, dalam arti honor pemain tetap disampaikan ke kelompok di desa sedangkan alat, panggung, hal-hal yang terdapat kesamaan untuk kebutuhan pementasan digabungkan ke kecamatan. Saya melihat ini pada saat itu adalah sebuah upaya win-win solution yang bisa ditempuh untuk menjembatani antara usulan dan upaya mimpi kecamatan.

Pracimantoro yang belum bermimpi

Setelah dari karangtengah saya bergegas ke Praci untuk dapat mengejar waktu pendalaman proposal Praci dan Jatiroto, jarak yang jauh dan waktu yang molor di Karangtengah, serta hujan lebat di Karangtengah akibatnya saya menunda pendalaman proposal untuk Jatiroto.

Menyusuri jalan pulang dari Kecamatan Karangtengah terhambat di jalan alternative yang berbatu, licin, dan jembatan tanpa pengaman batas kanan kiri yang pada waktu pagi kemi lewati ngerasani nek hujan kelep, benar saja air dari hujan deras yang mengguyur membuat saya dan Mas Joko kikuk untuk menyeberangi, bagaimana kalau seandainya tergelincir dan terseret arus, wah….. wah….. wah…… Untungnya ada masyarakat desa yang dengan sukarela memberi tahu batas dengan berdiri di pinggir-pinggir jembatan itu, akhirnya kami dapat melanjutkan perjalanan. Legaaa….!

Perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam, jalan yang panjang, naik-turun bukit padas yang mulai rimbun hijau, hutan jati, lading, rumah-rumah penduduk, kota-kota kecamatan, akhirnya sampai juga di kecamatan Praci, masih tetap hujan disambut mas Beny Penlok Praci, lalu kamipun menuju ke rumah salah seorang yang dituakan dalam urusan kesenian, Pak Ngatimin, mantan penilik kebudayaan dari P&K yang dari tahun 1975 hingga 1995, pensiun muda karena kecelakaan dalam tugasnya.

Mimpi….mimpi….mimpi

Sampai dirumah pak Ngatimin saya sudah ditunggu oleh kader budaya desa-desa di Praci, saya mencoba berdiskusi kecil dengan mas Beny untuk menanyakan komponen 1 mimpinya apa ya mas? Agak terkejut ternyata belum mulai untuk bermimpi…. “Saya menunggu mas Tommy”, kata mas Beny. Hmmmmm….? Mas Beny menerangkan pada saya untuk mumpung ada mas Tommy skalian aja mas Tommy kasih fasilitasi tentang mimpi dan penjelasan proposal, saya tersenyum, memori saya langsung mengingat pengalaman-pengalaman saya workshop di jakarta dan bantu proses pelatihan di Novotel dan vibrant-vibrantnya INSPIRIT (thanks).

Saya mencoba menggali mimpi-mimpi pribadi teman-teman di Praci, cara ini saya coba untuk menjelaskan tentang cara bermimpi yang nantinya dapat memberikan kejelasan proses bermimpi yang bisa lebih nyata untuk teman-teman di Praci.

Acara ini yang juga memberi kesempatan pada saya untuk mendengar dari teman-teman mengenai cerita-cerita yang menarik dari desanya, ada yang desanya terletak di lembah yang panjang, ada yang cerita memiliki 3 dalang, ada yang bercerita Kawasan KARST Dunia, ada pula yang bercerita kalau ditempnya sama sekali tidak punya kesenian (tapi dalam penjelasan selanjutnya dia cerita tentang potensi kerajinan anyaman tikar mendong seharga 80.000 per lembar J).

Pada pertemuan ini juga kita banyak sharing tentang potensi dan kebudayaan masyarakat desa serta kebudayaan jawa, lagi-lagi dada saya berdegup kecang ketika merasakan antusiasme teman-teman dengan semangatnya bercerita keinginan mereka menguri-uri kebudayaannya, serta keinginan teman-teman supaya generasi mendatang juga dapat tetap melestarikan potensi ini semua. Saya juga memberikan gambaran nilai yang ada dalam masyarakat desa yang juga bisa berubah tanpa harus mengubah esensinya seperti rewangan (bantu-membantu) dalam mengadakan upacara adat pernikahan, disitu saya mencoba memberikan pandangan-pandangan yang menurut saya perlu ada sebuah solusi, ketika anak-anak muda diberikan peran serta lebih berdasarkan potensinya bukan hanya sebagai sinoman (pelayan tamu untuk urusan makanan dan minuman). Bisa jadi hal inilah yang membuat anak-anak muda sekarang tidak mau lagi dalam urusan bantu-membantu, malu mungkin. Bisa saja mereka yang berpotensi kesenirupaan di beri ruang dalam dekorasi, yang berpotensi urusan teknik bisa diperbantukan dalam bidang teknik pelistrikan atau kontruksi, yang suka foto-foto diberi ruang untuk mendokumentasikan acara, yang badannya besar bisa bantu di keamanan he he he he.....

Pak Ngatimin dan Bu Ngatimin

Pertemuan selesai sekitar jam 5 sore, teman-teman kader budaya pamitan pulang dan saya harap bisa memberikan pandangan lain dalam mewujudkan mimpi-mimpinya, hanya tinggal Pak Ngatimin dan Bu Ngatimin dan seorang kader budaya dimanadi desanya terdapat Kawasan KARST Dunia dan berencana mengajak saya melihat kesana.

Pak Ngatimin bercerita keaktifannya dalam membina kesenian Laras Madya sejak dulu, dia bercerita kalau dulu latihan di sini penuh orang-orang menonton, dan kalau saya mengajarkan tentang langgam (nyanyian) saya kupas isinya supaya yang dilatih itu menjiwai tidak hanya asal menyanyi. Saya punya banyak koleksi lagu-lagu yang saya kumpulkan sejak dulu ada sekitar 120 halaman yang sudah saya bukukan, dan saya mengajarkan baru sekitar 50 an, itu mas seraya menunjuk kertas-kertas pada dinding. Bu Ngatimin menambahi kalau sekarang ada tari-tarian mas bisa telusuri asalnya dari sini, disini dulunya sanggar seni. ”Kita merasa ini saatnya yang pas kita bergerak untuk melestarikan budaya kita mas!” ujar pak Ngatimin mengakhiri ceritanya karena hari sudah mulai sore.

Lalu kami berpamitan dan menuju Kawasan KARST Dunia, masuk Goa dan melihat proyek yang sedang dibangun yaitu musium KARST Dunia. Sayang hari sudah mulai gelap sehingga saya tidak dapat masuk ke Goa-goa lainnya yang cerita dari pemandu lokalnya keren banget, ada sungai bawah tanahnya 40 km belum tembus. Dahsyatttttt!

Samar-samar Mimpi Karangtengah

Rabu, 19 November 2008

Bangun pagi ke Karangtengah

Tit…tit…tit…tit…tit… alarm berbunyi, bergegas bangun jam 5 pagi, karena jam 09.00 harus tiba di Karangtengah, perjalanan ke sana memakan waktu 3 - 4 jam, jalanan cukup ramai pagi ini berbarengan dengan orang berangkat bekerja dan anak-anak berangkat ke sekolah, he he he jarang saya menikmati pemandangan pagi seperti ini......

Setelah mampir untuk sarapan pagi pecel mbok sinem di daerah Sukoharjo, perjalanan dilanjutkan menuju Kabupaten Wonogiri, perjalanan masih panjang menuju Karangtengah, melewati bukit-bukit padas yang mulai menghijau berbeda dengan waktu kunjungan sebelumnya di musim kemarau-terlihat gersang dan bernuansa putih pada bukit-bukit batu putih.

Memasuki Batuwarno, kecamatan sebelum karangtengah jalan berliku-liku menanjak, melewati ladang, sawah, hutan, makin naik memasuki kecamatan Karangtengah memasuki hutan lindung pinus, agak sedikit aneh memang daerah di Wonogiri pikirku ngga’ mungkin ada pinus, biasanya hanya ada di Karanganyar.

”Mas Joko (sang driver) stop mas, kita harus belok ke kiri!” teriakku, sekelebat melihat tanda sementara jembatan dibongkar jadi kita harus lewat jalan lain tanah berbatu-batu sempit hanya cukup 1 mobil khas desa. Busyeeet! Jembatan yang aneh dicekungan jalan, kanan-kirinya terlihat bekas aliran air, jembatannya tanpa pengaman. ”Lha ini kalo hujan banjir no mas! Mobil iso kelep, ra iso lewat!” Kata mas Joko sang driver yang selalu menemani kunjungan ke daerah-daerah IKK Jateng. ”he’ e yo mas!” jawabku sambil membayangkan aliran air yang deras ketika hujan.

Di Kecamatan Karangtengah Pulul 09.10

Tiba di kecamatan saya nggak langsung masuk kantor UPK Karangtengah tapi melihat-lihat foto-foto dan Peta Budaya Kecamatan yang baru saja jadi dan mau dipasang di pendopo kecamatan (kerennnnnnn........!). setelah melihat-lihat asaya menuju kantor UPK yang terletak di belakang kantor kecamatan, mas Agus sang Penlok belum datang tapi ada beberapa teman UPK yang mau bergerak ke desa-desa untuk pencairan dana katanya. Saya ditemui beberapa teman UPK yang lain dan Pak Mul (PJOK) kita terlibat pembicaraan yang santai mengenai Karangtengah dan progressnya.

Cukup lama juga menunggu 1 jam lebih untuk akhirnya acara dimulai, dihadiri oleh Penlok dan tim kreatif serta 2 orang dari kader budaya Desa Temboro dan Desa Karangtengah.

Proposal Komponen 1 dan Samar-samar Mimpi

Pertemuan dimulai dan saya menanyakan mimpi Kecamatan Karangtengah, tahapan mimpi ini menrut saya penting sekali sebagai fundamental dari kegiatan yang diusulkan, mimpi ini bersifat nyata, dapat digambarkan, sebagai acuan untuk membuat serangkaian kegiatan yang nantinya.

Karangtengah mensikapi hal ini dengan mencoba mimpi ini diserahkan untuk desa-desa memiliki mimpi sendiri, hal yang menarik bagi saya ”Mimpi Desa”. Saya mencoba untuk mendengarkan penuturan salah seorang kader budaya desa Temboro dan mimpinya, ”Terwujudnya Desa Makmur, Sejahtera, Sejuk Berbudaya”, masih terasa impian yang samar menurut saya (mungkin memang kita tidak terbiasa bermimpi atau berangan-angan, sehingga kita tidak pernah memiliki tujuan yang jelas untuk dicapai....) saya coba untuk sedikit memberikan sebuah penjelasan tentang mimpi ini, bagaimana kronologis bermimpi yang sebenarnya sudah kita mulai bersama-sama dengan tahapan identifikasi budaya, asset-asset yang kita miliki adalah modal dasar kita bermimpi, dari itu semua coba kita renungkan, endapkan, kristalisasikan sehingga menjadi sebuah keinginan kita untuk membuat mimpi bersama.

Pada pendalaman ini saya mencoba untuk bisa melihat mimpi teman-teman di desa-desa Karangtengah lebih nyata sehingga pada saat pengajuan usulan terlihat ada benang merah dalam menggapai mimpi itu.

Bahasa mimpi melihat dari salah satu proposal yang diajukan teman-teman dari desa Temboro Karangtengah saya rasa belum dapat memberikan sebuah keinginan yang wujud, bisa dibayangkan dan ada target yang dicapai.

Bermimpi Kembali Desa

Saya coba menyerhanakan pertanyaan, ”Apa sih yang diinginkan desa-desa di Karangtengah ini dilihat dari potensi yang dimiliki tidak terbatas hanya kesenian saja misalnya? ” Karangtengah yang hanya memiliki 5 desa se-kecamatan lantas muncul potensi lain selain kesenian yang cukup antusias banget, di beberapa desa di karangtengah mampu menyetorkan 3 ton setiap 2 hari sekali empon-empon (bahan jamu dari akar-akaran seperti kunyit, jahe, dsb) ke Jakarta. Saya lantas ingat wonogiri memang memiliki industri jamu besar Air Mancur, mungkin ini juga yang mempengaruhi desa di sini menghasilkan 3 ton dalam 2 hari empon-empon. Langkah ini saya coba untuk dapat mereka melihat potensinya lebih dalam lagi.

Berikutnya saya mencoba untuk menanyakan adakah cerita yang membanggakan bagi Karangtengah misalkan dihubungkan dengan asal-muasal Karangtengah, prestasi-prestasi yang dicapai Karangtengah, atau Perayaan-perayaan yang menjadikan Karangtengah merasa itu menjadi sebuah cerita yang membanggakan? Dari sini mereka mulai bercerita tentang keberhasilannya jaman dulu, orang-dari mana-mana kalau waktu perayaan 17an pada datang, Kecamatan kita paling ramai dikunjungi dan paling jos! Ditambah stan-stan disepanjang depan jalan kecamatan ini penuh, hiburan yang disenangi kalau ada reog, dulu reog disini terkenal, malamnya wayangan (mulai sepi kalau sudah selesai goro-goro, karena mungkin hawanya yang dingin di sini) pokonya kalau dulu acara 17an disini paling ditunggu-tunggu, akan tetapi sekarang agak berbeda tidak ada reyog hanya wayangan dan campursari itupun campursari dari daerah lain diluar karangtengah, karena reyognya sudah malu kalau tampil, dadaknya sudah usang dan beberapa bagian rusak mas, jadi ya nggak ramai seperti dulu. Nah ini mas timpal mas Agus angan-angan kami mau memunculkan lagi kesenian tradisional dari desa-desa (mereka sudah tergugah dan antusias mendengar program budaya ada sehingga ada latihan-latihan lagi), supaya masyarakat itu mengenal potensi yang sebenarnya mereka sudah memilikinya hanya saja tidak tahu kalau di desa jeblogan itu ada kesenian jaran papat misalnya, kita punya dalang juga, kita punya grup rebana, campursari juga, cokekan, kerajinan anyaman (potensi ini dimiliki hanya saja orang-orang disini kok membelinya diluar). Saya lantas memberikan ilustrasi memulai dari hal kecil untuk kita sama-sama melihat kelompok kesenian yang mulai perlahan-lahan mati dan tidak diminati lagi, berbagai aspek dari mulai lingkungan sosial yang mulai tidak memberikan dukungan secara moril dan materil, hingga grup kesenian yang tidak tanggap atas perubahan gaya menonton masyarakat yang mulai berbeda dengan dulu.

Perbincangan makin seru hingga terarah pada satu titik bagaimana sebenarnya teman-teman ini memiliki kegelisahan dengan kebudayaan (kebudayaan dalam arti sempit mereka : kesenian), keinginan teman-teman mau memulai membangkitkan lagi asset kesenian yang dimiliki sebagai langkah awal dalam upaya untuk membangun kebersamaan yang dirasa oleh teman-teman mulai terkikis, seperti budaya sambatan membangun rumah misalnya, atau kebiasaan menyewa grup dari luar Karangtengah.

Selain dalam proposal yang diajukan desa-desa, Tim Kreatif memiliki juga usulan untuk membuat sebuah acara di Kecamatan yang memiliki tujuan yang sama untuk memperkenalkan potensi unggulan masing-masing desa yang rencananya akan dikemas dalam sebuah pertunjukan di Kecamatan, saya tertarik dengan ide tersebut mengingat cerita menarik bagi Kecamatan dulunya punya acara tahunan perayaan 17an yang mampu mendatangkan masyarakat yang tidak hanya dari Karangtengah saja. Ajang pergelaran ini menarik menurut saya jika seandainya memang keinginan teman-teman itu memang akan membangkitkan lagi asset kesenian untuk dapat hidup kembali dengan didukung lingkungan sosial masyarakatnya.

4000m2 UNTUK IKK TAWANGMANGU

”Mas sadi (penlok tawangmangu) bisakah kita bertemu, saya, anda, team kreatif, dan kader budaya yang mengusung usulan pada proposal komponen 1?” tawaran saya sewaktu dia menyerahkan proposal komponen 1 IKK Tawangmangu. Memang di tahapan proposal komponen 1 ini, saya mencoba untuk pendalaman kembali proposal ini sesuai dengan anjuran dari Mbak Dudu, ”Jo, tolong yah proposal komponen 1 di perdalam lagi.” “SIAP…!”

Minggu-minggu ini memang konsentrasi sedang pada komponen 1 ini, Mimpi yang merupakan fundamental belum dapat terlihat pada proposal komponen 1 yang diajukan oleh IKK Tawangmangu.

Jumat, 14 november 2008 siang saya bertandang ke IKK Tawangmangu, hujan lebat mengguyur Karangpandan hingga hampir sampai Tawangmangu, pertemuan diadakan di sebuah villa di depan Kecamatan Tawangmangu milik Alm. Soeharto mantan presiden RI yang konon kabarnya punya villa banyak di Tawangmangu. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh teman-teman IKK Tawangmangu itu, sangat santai sehingga kita dapat dengan mudah untuk proses pendalaman itu.

Di awali dengan mimpi

Setelah mengenalkan diri, saya langsung menjelaskan perihal mimpi yang sangat penting bagi kita semua untuk memilikinya supaya ada arahan yang jelas untuk program ini mau di bawa kemana, Bu Endang langsung dengan berapi-api menyahut pembicaraan, Dulu saya pernah bermimpi seperti ini mas, jelas Bu Endang, Kita memiliki asset yang luar biasa di Tawangmangu ini, kita sudah tahu bahwa di Tawangmangu ini adalah tempat yang menonjol pariwisatanya, saya bermimpi membuat tempat seperti warung yang juga menyediakan hotel, yang bahan makanannya di ambil dari Tawangmangu sini, dan tamu dapat melihat langsung proses bertaninya dari proses tanam hingga panen. Dan ada penjadwalan untuk kelompok-kelompok kesenian dari desa-desa di Tawangmangu tampil menghibur tamu yang datang, hotelnyapun dibuat ala desa, dan juga menjual makanan-makanan khas Tawangmangu.

”Kebetulan sekali kita memiliki seorang kader budaya yang menawarkan tanahnya seluas 4000 m2 dan letaknya strategis untuk dijadikan tempat itu”, Mas Sadi mencoba untuk menambahi.

Menarik sekali warung mimpi mereka, saya lantas membayangkan, jika fisik itu sudah ada kegiatan ini menarik sekali, akan tetapi saya mencoba untuk tidak membuat ”judgement” bisa atau tidak, saya lebih mencoba menggali lagi mimpi-mimpi yang lain, seorang dari tim kreatif mencoba berbisik-bisik kepada saya mengenai warung mimpi ini, dia agak tidak sejalan dengan usulan ini (biasa di Jawa untuk berkonfrontasi langsung dengan yang lebih tua masih pikir-pikir dulu he he he), menurutnya hal itu menarik hanya saja yang lebih penting menurutnya bagaimana mimpi itu dapat menjadi milik semua masyarakat Tawangmangu, tidak hanya sekelompok orang dan lebih mengedepankan budaya tidak berangkat dari motivasi ekonomi dulu tapi orangnya yang melakukan. Saya mencoba untuk bersikap netral, memang menarik untuk warung mimpi, akan tetapi mungkin perlu untuk di bicarakan kembali dengan semua apakah benar yang di impikan oleh masyarakat Tawangmangu adalah itu, atau ada yang lain?

Mimpi yang baik menurut saya harus didasari dari langkah awal program ini yaitu mengidentifikasi asset yang ada di Tawangmangu, dari dasar itu bisa terlihat potensi yang dapat akhirnya dikristalkan untuk menjadi sebuah mimpi, dalam identifikasi ini kita sering terjebak dalam pengertian budaya yang sempit yaitu asset kesenian yang ada dalam masyarakat, cerita menarik tentang prestasi sebuah desa misalnya, atau asal mula penamaan desa, folklore kurang mendapat perhatian, karena bisa jadi inipun penting nantinya dalam proses bermimpi.

Semangat untuk kembali bermimpi VS Proposal Komponen 1

Saya mencoba untuk menggali dari data proposal awal komponen 1 yang saya terima, walaupun Mas Sadi sudah mencoba menerangkan kepada saya perihal semua asset ini kami diajukan tinggal mana yang kelola setujui, saya agak tercenggang dengan biaya yang dianggarkan untuk komponen 1 ini 200 jutaan, fantastis menurut saya! Dan saya mencoba untuk menanyakan perihal ini kepada teman-teman di IKK Tawangmangu, perbedaan penafsiran atau memang patern mekanisme PNPM sebelumnya saya tidak tau pasti, yang jelas menurut mereka melihat ini sebagai persaingan yang sehat antar desa, desa diberikan kebebasan untuk membuat kegiatan dan nantinya akan ada verifikasi mana desa yang disetujui untuk mendapatkan pendanaan. Hmmm..... !

Kenyataan ini baru jelas pada akhirnya, saya mencoba menawarkan ini adalah sebuah rancangan bersama, mimpi bersama satu kecamatan, bagaimana seandainya melalui pendekatan mimpi bersama ini kita wujudkan.

Teman-teman IKK Tawangmangu merasa lega setelah kami semua sharing mengenai pentingnya mimpi, menyadari sepenuhnya dan mencoba untuk memulai dari mimpi, saya jadi terharu sekali setelah proses panjang teman-teman dengan senang hati untuk kembali bermimpi di malam minggu, 15 November 2008. Selamat bermimpi teman-teman....!

Memang sudah biasa

Dalam pertemuan ini ada sebuah hal yang penting, bagaimana masyarakat di Tawangmangu sadar betul asset mereka, potensi alam, pertanian sayur, pariwisata, bisa terlihat dari penuturan teman-teman IKK, saya sempat tercenggang dalam seminggu hanya pali ada 2 hari mas yang kosong (latihan). Wooow kegiatan meng URI-URI KABUDAYAN JAWI memang sudah menjadi sebuah kebiasaan keseharian di Tawangmangu, sebenarnya teman-teman tinggal mengemas itu menurut saya dalam sebuah informasi, dan ditawarkan ke pihak-pihak yang dapat menjadi rekanan untuk sama-sama mendapat manfaat.

”Kapan-kapan mas Tommy berkunjung ke tempat kami untuk lihat latihan”, ajak salah seorang kader budaya.

”SIAP !” jawab saya.