4000m2 UNTUK IKK TAWANGMANGU
”Mas sadi (penlok tawangmangu) bisakah kita bertemu, saya, anda, team kreatif, dan kader budaya yang mengusung usulan pada proposal komponen 1?” tawaran saya sewaktu dia menyerahkan proposal komponen 1 IKK Tawangmangu. Memang di tahapan proposal komponen 1 ini, saya mencoba untuk pendalaman kembali proposal ini sesuai dengan anjuran dari Mbak Dudu, ”Jo, tolong yah proposal komponen 1 di perdalam lagi.” “SIAP…!”
Minggu-minggu ini memang konsentrasi sedang pada komponen 1 ini, Mimpi yang merupakan fundamental belum dapat terlihat pada proposal komponen 1 yang diajukan oleh IKK Tawangmangu.
Jumat, 14 november 2008 siang saya bertandang ke IKK Tawangmangu, hujan lebat mengguyur Karangpandan hingga hampir sampai Tawangmangu, pertemuan diadakan di sebuah villa di depan Kecamatan Tawangmangu milik Alm. Soeharto mantan presiden RI yang konon kabarnya punya villa banyak di Tawangmangu. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh teman-teman IKK Tawangmangu itu, sangat santai sehingga kita dapat dengan mudah untuk proses pendalaman itu.
Di awali dengan mimpi
Setelah mengenalkan diri, saya langsung menjelaskan perihal mimpi yang sangat penting bagi kita semua untuk memilikinya supaya ada arahan yang jelas untuk program ini mau di bawa kemana, Bu Endang langsung dengan berapi-api menyahut pembicaraan, Dulu saya pernah bermimpi seperti ini mas, jelas Bu Endang, Kita memiliki asset yang luar biasa di Tawangmangu ini, kita sudah tahu bahwa di Tawangmangu ini adalah tempat yang menonjol pariwisatanya, saya bermimpi membuat tempat seperti warung yang juga menyediakan hotel, yang bahan makanannya di ambil dari Tawangmangu sini, dan tamu dapat melihat langsung proses bertaninya dari proses tanam hingga panen. Dan ada penjadwalan untuk kelompok-kelompok kesenian dari desa-desa di Tawangmangu tampil menghibur tamu yang datang, hotelnyapun dibuat ala desa, dan juga menjual makanan-makanan khas Tawangmangu.
”Kebetulan sekali kita memiliki seorang kader budaya yang menawarkan tanahnya seluas 4000 m2 dan letaknya strategis untuk dijadikan tempat itu”, Mas Sadi mencoba untuk menambahi.
Menarik sekali warung mimpi mereka, saya lantas membayangkan, jika fisik itu sudah ada kegiatan ini menarik sekali, akan tetapi saya mencoba untuk tidak membuat ”judgement” bisa atau tidak, saya lebih mencoba menggali lagi mimpi-mimpi yang lain, seorang dari tim kreatif mencoba berbisik-bisik kepada saya mengenai warung mimpi ini, dia agak tidak sejalan dengan usulan ini (biasa di Jawa untuk berkonfrontasi langsung dengan yang lebih tua masih pikir-pikir dulu he he he), menurutnya hal itu menarik hanya saja yang lebih penting menurutnya bagaimana mimpi itu dapat menjadi milik semua masyarakat Tawangmangu, tidak hanya sekelompok orang dan lebih mengedepankan budaya tidak berangkat dari motivasi ekonomi dulu tapi orangnya yang melakukan. Saya mencoba untuk bersikap netral, memang menarik untuk warung mimpi, akan tetapi mungkin perlu untuk di bicarakan kembali dengan semua apakah benar yang di impikan oleh masyarakat Tawangmangu adalah itu, atau ada yang lain?
Mimpi yang baik menurut saya harus didasari dari langkah awal program ini yaitu mengidentifikasi asset yang ada di Tawangmangu, dari dasar itu bisa terlihat potensi yang dapat akhirnya dikristalkan untuk menjadi sebuah mimpi, dalam identifikasi ini kita sering terjebak dalam pengertian budaya yang sempit yaitu asset kesenian yang ada dalam masyarakat, cerita menarik tentang prestasi sebuah desa misalnya, atau asal mula penamaan desa, folklore kurang mendapat perhatian, karena bisa jadi inipun penting nantinya dalam proses bermimpi.
Semangat untuk kembali bermimpi VS Proposal Komponen 1
Saya mencoba untuk menggali dari data proposal awal komponen 1 yang saya terima, walaupun Mas Sadi sudah mencoba menerangkan kepada saya perihal semua asset ini kami diajukan tinggal mana yang kelola setujui, saya agak tercenggang dengan biaya yang dianggarkan untuk komponen 1 ini 200 jutaan, fantastis menurut saya! Dan saya mencoba untuk menanyakan perihal ini kepada teman-teman di IKK Tawangmangu, perbedaan penafsiran atau memang patern mekanisme PNPM sebelumnya saya tidak tau pasti, yang jelas menurut mereka melihat ini sebagai persaingan yang sehat antar desa, desa diberikan kebebasan untuk membuat kegiatan dan nantinya akan ada verifikasi mana desa yang disetujui untuk mendapatkan pendanaan. Hmmm..... !
Kenyataan ini baru jelas pada akhirnya, saya mencoba menawarkan ini adalah sebuah rancangan bersama, mimpi bersama satu kecamatan, bagaimana seandainya melalui pendekatan mimpi bersama ini kita wujudkan.
Teman-teman IKK Tawangmangu merasa lega setelah kami semua sharing mengenai pentingnya mimpi, menyadari sepenuhnya dan mencoba untuk memulai dari mimpi, saya jadi terharu sekali setelah proses panjang teman-teman dengan senang hati untuk kembali bermimpi di malam minggu, 15 November 2008. Selamat bermimpi teman-teman....!
Memang sudah biasa
Dalam pertemuan ini ada sebuah hal yang penting, bagaimana masyarakat di Tawangmangu sadar betul asset mereka, potensi alam, pertanian sayur, pariwisata, bisa terlihat dari penuturan teman-teman IKK, saya sempat tercenggang dalam seminggu hanya pali ada 2 hari mas yang kosong (latihan). Wooow kegiatan meng URI-URI KABUDAYAN JAWI memang sudah menjadi sebuah kebiasaan keseharian di Tawangmangu, sebenarnya teman-teman tinggal mengemas itu menurut saya dalam sebuah informasi, dan ditawarkan ke pihak-pihak yang dapat menjadi rekanan untuk sama-sama mendapat manfaat.
”Kapan-kapan mas Tommy berkunjung ke tempat kami untuk lihat latihan”, ajak salah seorang kader budaya.
”SIAP !” jawab saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar