Pracimantoro yang belum bermimpi
Setelah dari karangtengah saya bergegas ke Praci untuk dapat mengejar waktu pendalaman proposal Praci dan Jatiroto, jarak yang jauh dan waktu yang molor di Karangtengah, serta hujan lebat di Karangtengah akibatnya saya menunda pendalaman proposal untuk Jatiroto.
Menyusuri jalan pulang dari Kecamatan Karangtengah terhambat di jalan alternative yang berbatu, licin, dan jembatan tanpa pengaman batas kanan kiri yang pada waktu pagi kemi lewati ngerasani nek hujan kelep, benar saja air dari hujan deras yang mengguyur membuat saya dan Mas Joko kikuk untuk menyeberangi, bagaimana kalau seandainya tergelincir dan terseret arus, wah….. wah….. wah…… Untungnya ada masyarakat desa yang dengan sukarela memberi tahu batas dengan berdiri di pinggir-pinggir jembatan itu, akhirnya kami dapat melanjutkan perjalanan. Legaaa….!
Perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam, jalan yang panjang, naik-turun bukit padas yang mulai rimbun hijau, hutan jati, lading, rumah-rumah penduduk, kota-kota kecamatan, akhirnya sampai juga di kecamatan Praci, masih tetap hujan disambut mas Beny Penlok Praci, lalu kamipun menuju ke rumah salah seorang yang dituakan dalam urusan kesenian, Pak Ngatimin, mantan penilik kebudayaan dari P&K yang dari tahun 1975 hingga 1995, pensiun muda karena kecelakaan dalam tugasnya.
Mimpi….mimpi….mimpi
Sampai dirumah pak Ngatimin saya sudah ditunggu oleh kader budaya desa-desa di Praci, saya mencoba berdiskusi kecil dengan mas Beny untuk menanyakan komponen 1 mimpinya apa ya mas? Agak terkejut ternyata belum mulai untuk bermimpi…. “Saya menunggu mas Tommy”, kata mas Beny. Hmmmmm….? Mas Beny menerangkan pada saya untuk mumpung ada mas Tommy skalian aja mas Tommy kasih fasilitasi tentang mimpi dan penjelasan proposal, saya tersenyum, memori saya langsung mengingat pengalaman-pengalaman saya workshop di jakarta dan bantu proses pelatihan di Novotel dan vibrant-vibrantnya INSPIRIT (thanks).
Saya mencoba menggali mimpi-mimpi pribadi teman-teman di Praci, cara ini saya coba untuk menjelaskan tentang cara bermimpi yang nantinya dapat memberikan kejelasan proses bermimpi yang bisa lebih nyata untuk teman-teman di Praci.
Acara ini yang juga memberi kesempatan pada saya untuk mendengar dari teman-teman mengenai cerita-cerita yang menarik dari desanya, ada yang desanya terletak di lembah yang panjang, ada yang cerita memiliki 3 dalang, ada yang bercerita Kawasan KARST Dunia, ada pula yang bercerita kalau ditempnya sama sekali tidak punya kesenian (tapi dalam penjelasan selanjutnya dia cerita tentang potensi kerajinan anyaman tikar mendong seharga 80.000 per lembar J).
Pada pertemuan ini juga kita banyak sharing tentang potensi dan kebudayaan masyarakat desa serta kebudayaan jawa, lagi-lagi dada saya berdegup kecang ketika merasakan antusiasme teman-teman dengan semangatnya bercerita keinginan mereka menguri-uri kebudayaannya, serta keinginan teman-teman supaya generasi mendatang juga dapat tetap melestarikan potensi ini semua. Saya juga memberikan gambaran nilai yang ada dalam masyarakat desa yang juga bisa berubah tanpa harus mengubah esensinya seperti rewangan (bantu-membantu) dalam mengadakan upacara adat pernikahan, disitu saya mencoba memberikan pandangan-pandangan yang menurut saya perlu ada sebuah solusi, ketika anak-anak muda diberikan peran serta lebih berdasarkan potensinya bukan hanya sebagai sinoman (pelayan tamu untuk urusan makanan dan minuman). Bisa jadi hal inilah yang membuat anak-anak muda sekarang tidak mau lagi dalam urusan bantu-membantu, malu mungkin. Bisa saja mereka yang berpotensi kesenirupaan di beri ruang dalam dekorasi, yang berpotensi urusan teknik bisa diperbantukan dalam bidang teknik pelistrikan atau kontruksi, yang suka foto-foto diberi ruang untuk mendokumentasikan acara, yang badannya besar bisa bantu di keamanan he he he he.....
Pak Ngatimin dan Bu Ngatimin
Pertemuan selesai sekitar jam 5 sore, teman-teman kader budaya pamitan pulang dan saya harap bisa memberikan pandangan lain dalam mewujudkan mimpi-mimpinya, hanya tinggal Pak Ngatimin dan Bu Ngatimin dan seorang kader budaya dimanadi desanya terdapat Kawasan KARST Dunia dan berencana mengajak saya melihat kesana.
Pak Ngatimin bercerita keaktifannya dalam membina kesenian Laras Madya sejak dulu, dia bercerita kalau dulu latihan di sini penuh orang-orang menonton, dan kalau saya mengajarkan tentang langgam (nyanyian) saya kupas isinya supaya yang dilatih itu menjiwai tidak hanya asal menyanyi. Saya punya banyak koleksi lagu-lagu yang saya kumpulkan sejak dulu ada sekitar 120 halaman yang sudah saya bukukan, dan saya mengajarkan baru sekitar 50 an, itu mas seraya menunjuk kertas-kertas pada dinding. Bu Ngatimin menambahi kalau sekarang ada tari-tarian mas bisa telusuri asalnya dari sini, disini dulunya sanggar seni. ”Kita merasa ini saatnya yang pas kita bergerak untuk melestarikan budaya kita mas!” ujar pak Ngatimin mengakhiri ceritanya karena hari sudah mulai sore.
Lalu kami berpamitan dan menuju Kawasan KARST Dunia, masuk Goa dan melihat proyek yang sedang dibangun yaitu musium KARST Dunia. Sayang hari sudah mulai gelap sehingga saya tidak dapat masuk ke Goa-goa lainnya yang cerita dari pemandu lokalnya keren banget, ada sungai bawah tanahnya 40 km belum tembus. Dahsyatttttt!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar