Selasa, 25 November 2008

Samar-samar Mimpi Karangtengah

Rabu, 19 November 2008

Bangun pagi ke Karangtengah

Tit…tit…tit…tit…tit… alarm berbunyi, bergegas bangun jam 5 pagi, karena jam 09.00 harus tiba di Karangtengah, perjalanan ke sana memakan waktu 3 - 4 jam, jalanan cukup ramai pagi ini berbarengan dengan orang berangkat bekerja dan anak-anak berangkat ke sekolah, he he he jarang saya menikmati pemandangan pagi seperti ini......

Setelah mampir untuk sarapan pagi pecel mbok sinem di daerah Sukoharjo, perjalanan dilanjutkan menuju Kabupaten Wonogiri, perjalanan masih panjang menuju Karangtengah, melewati bukit-bukit padas yang mulai menghijau berbeda dengan waktu kunjungan sebelumnya di musim kemarau-terlihat gersang dan bernuansa putih pada bukit-bukit batu putih.

Memasuki Batuwarno, kecamatan sebelum karangtengah jalan berliku-liku menanjak, melewati ladang, sawah, hutan, makin naik memasuki kecamatan Karangtengah memasuki hutan lindung pinus, agak sedikit aneh memang daerah di Wonogiri pikirku ngga’ mungkin ada pinus, biasanya hanya ada di Karanganyar.

”Mas Joko (sang driver) stop mas, kita harus belok ke kiri!” teriakku, sekelebat melihat tanda sementara jembatan dibongkar jadi kita harus lewat jalan lain tanah berbatu-batu sempit hanya cukup 1 mobil khas desa. Busyeeet! Jembatan yang aneh dicekungan jalan, kanan-kirinya terlihat bekas aliran air, jembatannya tanpa pengaman. ”Lha ini kalo hujan banjir no mas! Mobil iso kelep, ra iso lewat!” Kata mas Joko sang driver yang selalu menemani kunjungan ke daerah-daerah IKK Jateng. ”he’ e yo mas!” jawabku sambil membayangkan aliran air yang deras ketika hujan.

Di Kecamatan Karangtengah Pulul 09.10

Tiba di kecamatan saya nggak langsung masuk kantor UPK Karangtengah tapi melihat-lihat foto-foto dan Peta Budaya Kecamatan yang baru saja jadi dan mau dipasang di pendopo kecamatan (kerennnnnnn........!). setelah melihat-lihat asaya menuju kantor UPK yang terletak di belakang kantor kecamatan, mas Agus sang Penlok belum datang tapi ada beberapa teman UPK yang mau bergerak ke desa-desa untuk pencairan dana katanya. Saya ditemui beberapa teman UPK yang lain dan Pak Mul (PJOK) kita terlibat pembicaraan yang santai mengenai Karangtengah dan progressnya.

Cukup lama juga menunggu 1 jam lebih untuk akhirnya acara dimulai, dihadiri oleh Penlok dan tim kreatif serta 2 orang dari kader budaya Desa Temboro dan Desa Karangtengah.

Proposal Komponen 1 dan Samar-samar Mimpi

Pertemuan dimulai dan saya menanyakan mimpi Kecamatan Karangtengah, tahapan mimpi ini menrut saya penting sekali sebagai fundamental dari kegiatan yang diusulkan, mimpi ini bersifat nyata, dapat digambarkan, sebagai acuan untuk membuat serangkaian kegiatan yang nantinya.

Karangtengah mensikapi hal ini dengan mencoba mimpi ini diserahkan untuk desa-desa memiliki mimpi sendiri, hal yang menarik bagi saya ”Mimpi Desa”. Saya mencoba untuk mendengarkan penuturan salah seorang kader budaya desa Temboro dan mimpinya, ”Terwujudnya Desa Makmur, Sejahtera, Sejuk Berbudaya”, masih terasa impian yang samar menurut saya (mungkin memang kita tidak terbiasa bermimpi atau berangan-angan, sehingga kita tidak pernah memiliki tujuan yang jelas untuk dicapai....) saya coba untuk sedikit memberikan sebuah penjelasan tentang mimpi ini, bagaimana kronologis bermimpi yang sebenarnya sudah kita mulai bersama-sama dengan tahapan identifikasi budaya, asset-asset yang kita miliki adalah modal dasar kita bermimpi, dari itu semua coba kita renungkan, endapkan, kristalisasikan sehingga menjadi sebuah keinginan kita untuk membuat mimpi bersama.

Pada pendalaman ini saya mencoba untuk bisa melihat mimpi teman-teman di desa-desa Karangtengah lebih nyata sehingga pada saat pengajuan usulan terlihat ada benang merah dalam menggapai mimpi itu.

Bahasa mimpi melihat dari salah satu proposal yang diajukan teman-teman dari desa Temboro Karangtengah saya rasa belum dapat memberikan sebuah keinginan yang wujud, bisa dibayangkan dan ada target yang dicapai.

Bermimpi Kembali Desa

Saya coba menyerhanakan pertanyaan, ”Apa sih yang diinginkan desa-desa di Karangtengah ini dilihat dari potensi yang dimiliki tidak terbatas hanya kesenian saja misalnya? ” Karangtengah yang hanya memiliki 5 desa se-kecamatan lantas muncul potensi lain selain kesenian yang cukup antusias banget, di beberapa desa di karangtengah mampu menyetorkan 3 ton setiap 2 hari sekali empon-empon (bahan jamu dari akar-akaran seperti kunyit, jahe, dsb) ke Jakarta. Saya lantas ingat wonogiri memang memiliki industri jamu besar Air Mancur, mungkin ini juga yang mempengaruhi desa di sini menghasilkan 3 ton dalam 2 hari empon-empon. Langkah ini saya coba untuk dapat mereka melihat potensinya lebih dalam lagi.

Berikutnya saya mencoba untuk menanyakan adakah cerita yang membanggakan bagi Karangtengah misalkan dihubungkan dengan asal-muasal Karangtengah, prestasi-prestasi yang dicapai Karangtengah, atau Perayaan-perayaan yang menjadikan Karangtengah merasa itu menjadi sebuah cerita yang membanggakan? Dari sini mereka mulai bercerita tentang keberhasilannya jaman dulu, orang-dari mana-mana kalau waktu perayaan 17an pada datang, Kecamatan kita paling ramai dikunjungi dan paling jos! Ditambah stan-stan disepanjang depan jalan kecamatan ini penuh, hiburan yang disenangi kalau ada reog, dulu reog disini terkenal, malamnya wayangan (mulai sepi kalau sudah selesai goro-goro, karena mungkin hawanya yang dingin di sini) pokonya kalau dulu acara 17an disini paling ditunggu-tunggu, akan tetapi sekarang agak berbeda tidak ada reyog hanya wayangan dan campursari itupun campursari dari daerah lain diluar karangtengah, karena reyognya sudah malu kalau tampil, dadaknya sudah usang dan beberapa bagian rusak mas, jadi ya nggak ramai seperti dulu. Nah ini mas timpal mas Agus angan-angan kami mau memunculkan lagi kesenian tradisional dari desa-desa (mereka sudah tergugah dan antusias mendengar program budaya ada sehingga ada latihan-latihan lagi), supaya masyarakat itu mengenal potensi yang sebenarnya mereka sudah memilikinya hanya saja tidak tahu kalau di desa jeblogan itu ada kesenian jaran papat misalnya, kita punya dalang juga, kita punya grup rebana, campursari juga, cokekan, kerajinan anyaman (potensi ini dimiliki hanya saja orang-orang disini kok membelinya diluar). Saya lantas memberikan ilustrasi memulai dari hal kecil untuk kita sama-sama melihat kelompok kesenian yang mulai perlahan-lahan mati dan tidak diminati lagi, berbagai aspek dari mulai lingkungan sosial yang mulai tidak memberikan dukungan secara moril dan materil, hingga grup kesenian yang tidak tanggap atas perubahan gaya menonton masyarakat yang mulai berbeda dengan dulu.

Perbincangan makin seru hingga terarah pada satu titik bagaimana sebenarnya teman-teman ini memiliki kegelisahan dengan kebudayaan (kebudayaan dalam arti sempit mereka : kesenian), keinginan teman-teman mau memulai membangkitkan lagi asset kesenian yang dimiliki sebagai langkah awal dalam upaya untuk membangun kebersamaan yang dirasa oleh teman-teman mulai terkikis, seperti budaya sambatan membangun rumah misalnya, atau kebiasaan menyewa grup dari luar Karangtengah.

Selain dalam proposal yang diajukan desa-desa, Tim Kreatif memiliki juga usulan untuk membuat sebuah acara di Kecamatan yang memiliki tujuan yang sama untuk memperkenalkan potensi unggulan masing-masing desa yang rencananya akan dikemas dalam sebuah pertunjukan di Kecamatan, saya tertarik dengan ide tersebut mengingat cerita menarik bagi Kecamatan dulunya punya acara tahunan perayaan 17an yang mampu mendatangkan masyarakat yang tidak hanya dari Karangtengah saja. Ajang pergelaran ini menarik menurut saya jika seandainya memang keinginan teman-teman itu memang akan membangkitkan lagi asset kesenian untuk dapat hidup kembali dengan didukung lingkungan sosial masyarakatnya.

Tidak ada komentar: