Plupuh yang batik abizzzz
Selasa, 18 november 2008
Pagi ini jam 10 saya berkunjung mendadak ke Plupuh untuk urusan yang sama dalam minggu-minggu ini pendalaman proposal komponen 1 dan 2, saya mencoba menanyakan ini lebih jauh kepada Pak Sunardi selaku Penlok mengenai impian desa. Analisa saya ada yang terlewatkan dalam proses sosialisasi, yaitu proses bermimpi. Mungkin mimpi/impian tanpa disadari menjadi suatu hal yang tidak penting pada tahapan ini, atau mungkin juga proses bermimpi ini tidak tersosialisasikan dengan baik. Pada pertemuan ini saya mencoba mengingatkan kembali proses bermimpi merupakan proses lanjutan dari indentifikasi budaya yang telah dilakukan, mimpi pastinya berakar dari itu. ”To The Point saja mas Tommy!” kata Pak Sunardi (beliau ada jadwal lainnya harus memimpin rapat koperasi, saya maklum seperti halnya program ini juga sebagai pengisi di waktu luang pelaksanaan tugas PNPM J). Saya bertanya, ”dulu sewaktu pelatihan mimpi Kecamatan Plupuh apa ya?” pak Sunardi mencoba mengingat-ingat, dan dia lalu mengatakan Plupuh Kota Batik. Saya mencoba menanyakan lebih jauh bagaimana itu terjadi? Pak sunardi menerangkan dengan antusias di Plupuh banyak terdapat pengusaha dan buruh batik, bahkan 1 perusahaan batik di Plupuh dapat memperkerjakan sekitar 1000 buruh batik, dan semua desa punya potensi batik ini dan tidak hanya motif yang sudah ada akan tetapi juga penciptaan motif-motif baru, hal yang sebenarnya menarik menurut saya dilihat dari kemampuan masyarakat di Plupuh dalam memproduksi Batik ini sampai penciptaan ”motif baru”. Lalu Pak Sunardi memutuskan untuk mencoba mensosialisasikan mimpi yang dulu dicetuskan dalam pelatihan ke desa-desa, dengan pendekatan membuat Event Festival Batik di tingkat Kecamatan sebagai sebuah solusi saat itu untuk tetap mengakomodir proposal kegiatan yang diusulkan desa-desa (kesenian / pertunjukan). Sebagai sebuah konsekuensi logis yang terjadi, maka jumlah dana ke desa akan menjadi berkurang, dalam arti honor pemain tetap disampaikan ke kelompok di desa sedangkan alat, panggung, hal-hal yang terdapat kesamaan untuk kebutuhan pementasan digabungkan ke kecamatan. Saya melihat ini pada saat itu adalah sebuah upaya win-win solution yang bisa ditempuh untuk menjembatani antara usulan dan upaya mimpi kecamatan.

1 komentar:
Sebelum gue mengerjakan IKK, gue gak pernah tau apa gunanya bermimpi. Apa pentingnya gue punya impian dalam hidup, kerja, komunitas, dll. bagi gue, menjalani kehidupan,mengalir, lebih enak daripada memiliki mimpi.
Mungkin teman-teman di kecamatan juga merasakan hal yang sama. Terbiasa tidak punya mimpi. terbiasa tidak mampu membebaskan daya khayalnya. Terbelenggu dengan kesehariaan. Mungkin loh....
Mereka mungkin juga berpikir, mimpi adalah teori dari orang-orang kota yang tidak pernah merasakan keseharian bersama mereka. berhadapan dengan serunya kehidupan itu sendiri. Tetapi gue yakin Jo,... dengan bermimpi bersama InsyaAllah kita semua mencapai akhir dengan senyum.....
Posting Komentar